Troso - Bupati Jepara, Drs. H. Hendro Martojo, M. M. pada Selasa (15/12/09) lalu meresmikan gedung Tempat Keterampilan Usaha (TPKU) Matholi'ul Huda Troso.
Check this out!Dec 18, 2009
Galeri Peresmian TPKU oleh Bupati Jepara
Terima bunga - sesaat setelah Bupati Jepara turun dari mobil, seorang siswi menghadiahinya dengan rangkaian bunga.
Menunggu acara dimulai - suasana saat siswa menunggu acara peresmian dimulai dengan bercanda dengan sesama temannya.
Penerima Tamu - beberapa siswi MA Matholi'ul Huda Troso yang bertugas sebagai penerima tamu atau resepsionis.
Marching band - Korp marching band Bahana Swara MTs. Matholi'ul Huda Troso yang bertugas menyambut kedatangan Bupati Jepara.
Meninjau lokasi - Bupati Jepara dan rombongan di dampingi oleh Kepala MAMH Troso meninjau lokasi TPKU yang di dalamnya terdapat beberapa siswa sedang praktik menjahit.
Memotong kain - Bupati didampingi guru tata busana mencoba memotong kain yang akan dijadikan celana panjang.
Proses menjahit - Salah seorang siswa yang sedang ditanyai oleh Bupati Jepara tentang proses menjahit.
Bupati Jepara mengajak kepada semua pihak untuk memberdayakan TPKU yang telah berdiri di Yayasan Matholi'ul Huda.
Penyerahan bantuan - Bupati Jepara menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Ketua YPI Matholi'ul Huda Troso.
Prasmanan - usai peresmian, Bupati dan tamu undangan menikmati sajian makan siang yang telah disediakan ala prasmanan.
Check this out!
Dec 16, 2009
MA Matholi'ul Huda Troso Juarai LBB dan TUB
Mengibarkan Bendera - tiga petugas pengibar bendera dari MA Matholi'ul Hua Troso mengibarkan bendera dalam Lomba TUB pada Rabu, 2/12/09 lalu.
Jepara - MA Matholi'ul Huda Troso berhasil memper-tahankan gelar juara Lomba Baris Berbaris (LBB) dan Tata Upacara Bendera (TUB) tingkat SMA/MA se-Jepara di Gedung PGRI Jepara pada Selasa-Rabu, 1-2 Desember 2009 lalu. Gelar tersebut diperoleh setelah berhasil menyisihkan saingan-saingannya yang berasal dari belasan SMA/MA terkemuka di Jepara. Lomba digelar menjadi 2 putaran, yaitu putaran pertama pada hari Selasa, dan putaran kedua pada hari Rabu. Sedangkan kontingen MAMH Troso mendapatkan undian pada hari kedua. Pada Lomba TUB, Bambang Hariyanto dkk berhasil memukau tim penilai dan juga penonton. Sikap tegas dan suara hentakan kaki yang mantap menambah decak kagum bagi yang menyaksikan penampilan itu. Usai TUB, pasukan baris-berbaris bersiap-siap mengikuti LBB di luar gedung.
Ratusan pasang mata tertuju pada pasukan baris-berbaris yang dipimpin oleh Pramudya Fitriana Santosa, siswi kelas X A. Banyak yang menganggap bahwa "kiblat" baris-berbaris di Jepara adalah MA Matholi'ul Huda Troso. Bahkan ada beberapa penonton yang berani berspekulasi kalau pemenang lomba baris-berbaris pastilah dari MA Matholi'ul Huda Troso. Memerlukan waktu sekitar 40 menit untuk merampungkan gerakan dari posisi diam hingga gerakan variasi.
Usai tim penilai merekap nilai, keluar sebagai juara pertama MA MAtholi'ul Huda Troso, disusul SMA Negeri Kembang kemudian SMA Islam Jepara. Dengan hasil itu, maka tiket untuk mewakili Jepara di lomba serupa tingkat Eks-Karesidenan Pati pada April 2010 mendatang sudah didapatkan.
Fadloli Check this out!
Nov 25, 2009
MAMH Troso Tidak Terkalahkan dalam Basket Ball Tournament
Menerima piala - Wiwin Sadewo (kiri) menerima tropi bergilir Bupati Jepara oleh Kepala MAMH Troso, Drs. H. Nur Kholis Syam'un. Wiwin ditetapkan sebagai top scorrer
Tim Basket MA Matholi'ul Huda Troso tidak terkalahkan selama Basket Ball Tournament Kaukus 5 SMA/MA berlangsung di Basket Ball Court MA Matholi'ul Huda Troso pada Jumat - Selasa (20-24/11/09) kemarin.
Sebutan tersebut nampaknya tidak terlalu berlebihan, pasalnya sejak menjalani laga awal kontra tim Basket SMAN 1 Pecangaan Jumat (20/11/09) lalu, Tim basket MAMH Troso telah berhasil mencuri poin penuh atas lawannya.
Pertandingan versus SMAN 1 Welahan di hari ke-2 (Sabtu, 21/11/09) juga masih menjadi ajang untuk menambah poin kemenangan. 12 angka dicetak oleh Wiwin Sadewo, kapten sekaligus playmaker MAMH Troso. Hingga akhir quarter, Wiwin dkk berhasil membukukan skor 29 sedangkan SMAN 1 Welahan "hanya" membukukan skor 11. Dengan hasil tersebut MAMH Troso telah mengumpulkan 6 poin. Hasil sementara MAMH Troso menduduki posisi teratas disusul oleh SMA Walisongo.
Seakan tidak rela kehilangan poin, di hari ketiga turnamen (Ahad, 22/11/09), Tim binaan pelatih Bisri Musthofa itu terus bermain offensive saat menjamu SMA Sultan Agung Kriyan. Bahkan sejak menit-menit awal, MAMH Troso mampu menggetarkan lawannya, terbukti dengan keberhasilan Wildan memasukkan bola ke ring SMA Sula melalui layup-nya. Sebaliknya, hampir semua serangan yang diciptakan oleh penyerang SMA Sula tidak ada yang membuahkan angka kecuali hanya 3 kali saja. Di laga ketiga ini, MAMH Troso berhasil memenangi pertandingan dengan skor telak 41 - 6.
Laga terakhir Tim MAMH Troso kontra SMA Walisongo Pecangaan, tim basket yang diunggulkan dalam turnamen ini dan juga memiliki rekor belum terkalahkan selama 2 laga sebelumnya, menjadi laga penentuan pada Senin (23,11/09). Di Quarter pertama, Wiwin dkk sempat tertinggal 3 angka, mereka harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalannya. Kerja keras mereka berhasil membalik kedudukan di quarter kedua hingga quarter akhir. Skor akhir 36 -26 untuk kemenangan MAMH Troso. Dengan hasil itu, tim MAMH Troso berhasil mengumpulkan poin 12 sekaligus berhasil memenangi kejuaraan dan berhak mendapatkan tropi bergilir Bupati Jepara. Sementara itu, SMA Walisongo harus berjuang ekstrakeras untuk dapat menduduki posisi kedua saat melawan SMAN 1 Pecangaan pada Selasa (24/22/09) kemarin.
Berikut hasil rekapitulasi poin pertandingan selama 4 hari:
Check this out!
Nov 24, 2009
Katakan Cinta dengan Aniaya
Salah satu hobi yang saya sendiri sering mengeluhkan adalah kebiasaan untuk suka dipijat. Begitu hebatnya hobi ini hingga istri dan anak-anak pun lebih suka menyingkir jika saya sudah kedapatan merebahkan badan. Pendek kata tidak ada hari tanpa pijat. Bagi mereka, mendekat di saat seperti ini hanya berarti kerja paksa. Malah secara terbuka istri pernah mengeluh, bahwa ia merindukan kedekatan tanpa ada gangguan pemijatan. ''Menjadi pemijat kan dulu tidak termasuk dalam kontrak perkawinan,'' sungutnya.
Saya tahu kekesalannya. Tapi jika tubuh ini sudah diserang pegal di sekujur, yang saya pedulikan cuma satu: mengusir pegal ini secepatnya. Walau sebetulnya, pijat bukan sekadar pengusir pegal. Yang terpenting adalah bahwa di dalam pijat ini ada kontak lahir batin. Capek fisik mendapat obatnya, kemanjaan batin mendapat penyalurannnya. Efek rangkap inilah kenapa yang membuat pijat lebih adiktif, lebih bikin nyandu dibanding narkoba.
Tapi saya memilih menyerah dalam perangkap bahaya ini. Karena saya yakin, saya tidak sendiri. Seorang santri, yang kini sudah menjadi kiai hebat, pernah bercerita bahwa pijat bisa menjadi alat paedagogi, sarana mengajar yang dahsyat. Karena pijatlah ia merasa bisa menjadi seperti sekarang. Oleh gurunya, ia sering mendapat tugas memijat hingga sang guru tertidur. Sebagaimana santri yang patuh, ia belum berhenti jika sang guru belum benar-benar tertidur.
Semula ia cuma menduga ini cuma tugas struktural biasa, antara bos dan stafnya. Tapi lama-lama ia menangkap niat terpendam gurunya. Bahwa untuk guru sehebat itu, pemijat paling hebat pun akan datang dengan suka cita. Jika sang guru mimilihnya, pasti bukan karena kualitas pijatannya. Di akhir cerita, si santri ini sepenuhnya yakin, lewat pijat itulah sang guru tak cuma sedang menyalurkan ilmunya tapi juga menyalurkan hasrat sayangnya pada sesama.
Cerita ini sungguh membuat saya makin percaya diri untuk memperalat anak istri saya. Si TK dan Si SD telah biasa menginjak-injak punggung bapaknya meskipun dengan segenap omelan dan protes di sana-sini. Ada kalanya, protes itu malah sudah demikian penuh kemarahan, mereka bahkan bukan menginjak-nginjak lagi, melainkan sudah melompat-lompat di sekujur badan untuk tujuan menyakiti bapaknya. Di mata anak-anak, saya ini pasti hanya tukang perintah kerja paksa, tukang rampok waktu bermainnya.
Tapi mereka tak pernah tahu, betapa saat melihat mereka ngomel itulah saya bisa tertawa sambil membenamkan suara di bantal sekuat-kuatnya. Inilah momen terlucu anak-anak saya. Lebih-lebih si TK yang bakat menipunya sudah mulai muncul itu. Sangat tidak mudah membujuk dia untuk segera melompat ke punggung bapaknya. Ia akan terus berusaha menunda kesanggupannya dengan berbagai cara. Ada karena roda mobil mainannya yang lepas dan butuh diperbaiki. Ada robot-robotan yang patah tangan dan harus disambung. Jika semua sudah terpasang, ia masih meminta waktu lagi untuk memasukkan barang-barang ke kotak mainan. Padahal kotak mainan itupun bukan barang yang mudah ditemukan karena hanya dicari ketika waktu menginjak punggung tiba.
Jadi ada saja akalnya untuk mengulur waktu. Giliran ia sudah tak punya alasan lagi dan harus segera bekerja, ia bisa minta berhenti ketika baru menginjakkan sebelah kakinya di badan ini. ''Nih sudah!'' katanya sambil ngeloyor pergi. Maka menariknya kembali, menindihnya sampai ia meraung-raung dalam pengertian sebenarnya adalah kriminalitas yang menyegarkan.
Begitu juga dengan istri. Menikmati pijatan dan omelannya sambil terpejam sungguh menggembirakan hati. Omelan itu malah seperti hiburan saja. Oo, inilah wanita yang sudah lelah mengurus anak-anak itu, yang mengawasi setiap jengkal rumah, cucian, seterikaan, mengatur uang belanja, bayar listrik, telpon, mengangsur kredit, mengarsip dokumen keluarga, memasak... masih harus memijat suami pula.
Untuk mengucapkan rasa terimakasih secara terbuka, saya tak biasa. Untuk terharu secara terang-terangan gengsi saya tak mengizinkan. Untuk merayunya seperti adegan sinetron sebagai tanda cinta, saya sudah trauma. Karena pernah saya meniru adegan rayuan seperti di televesi itu, istri saya malah geli tanpa henti. Sudah tentu saya tersinggung. Sejak saat itu saya berjanji tidak akan merayunya lagi.
Sulit bagi saya untuk mengatakan cinta pada mereka secara terbuka. Jadi, jalan satu-satunya yang saya bisa ialah dengan cara memperalat mereka.
(PrieGS/) Check this out!
Saya tahu kekesalannya. Tapi jika tubuh ini sudah diserang pegal di sekujur, yang saya pedulikan cuma satu: mengusir pegal ini secepatnya. Walau sebetulnya, pijat bukan sekadar pengusir pegal. Yang terpenting adalah bahwa di dalam pijat ini ada kontak lahir batin. Capek fisik mendapat obatnya, kemanjaan batin mendapat penyalurannnya. Efek rangkap inilah kenapa yang membuat pijat lebih adiktif, lebih bikin nyandu dibanding narkoba.
Tapi saya memilih menyerah dalam perangkap bahaya ini. Karena saya yakin, saya tidak sendiri. Seorang santri, yang kini sudah menjadi kiai hebat, pernah bercerita bahwa pijat bisa menjadi alat paedagogi, sarana mengajar yang dahsyat. Karena pijatlah ia merasa bisa menjadi seperti sekarang. Oleh gurunya, ia sering mendapat tugas memijat hingga sang guru tertidur. Sebagaimana santri yang patuh, ia belum berhenti jika sang guru belum benar-benar tertidur.
Semula ia cuma menduga ini cuma tugas struktural biasa, antara bos dan stafnya. Tapi lama-lama ia menangkap niat terpendam gurunya. Bahwa untuk guru sehebat itu, pemijat paling hebat pun akan datang dengan suka cita. Jika sang guru mimilihnya, pasti bukan karena kualitas pijatannya. Di akhir cerita, si santri ini sepenuhnya yakin, lewat pijat itulah sang guru tak cuma sedang menyalurkan ilmunya tapi juga menyalurkan hasrat sayangnya pada sesama.
Cerita ini sungguh membuat saya makin percaya diri untuk memperalat anak istri saya. Si TK dan Si SD telah biasa menginjak-injak punggung bapaknya meskipun dengan segenap omelan dan protes di sana-sini. Ada kalanya, protes itu malah sudah demikian penuh kemarahan, mereka bahkan bukan menginjak-nginjak lagi, melainkan sudah melompat-lompat di sekujur badan untuk tujuan menyakiti bapaknya. Di mata anak-anak, saya ini pasti hanya tukang perintah kerja paksa, tukang rampok waktu bermainnya.
Tapi mereka tak pernah tahu, betapa saat melihat mereka ngomel itulah saya bisa tertawa sambil membenamkan suara di bantal sekuat-kuatnya. Inilah momen terlucu anak-anak saya. Lebih-lebih si TK yang bakat menipunya sudah mulai muncul itu. Sangat tidak mudah membujuk dia untuk segera melompat ke punggung bapaknya. Ia akan terus berusaha menunda kesanggupannya dengan berbagai cara. Ada karena roda mobil mainannya yang lepas dan butuh diperbaiki. Ada robot-robotan yang patah tangan dan harus disambung. Jika semua sudah terpasang, ia masih meminta waktu lagi untuk memasukkan barang-barang ke kotak mainan. Padahal kotak mainan itupun bukan barang yang mudah ditemukan karena hanya dicari ketika waktu menginjak punggung tiba.
Jadi ada saja akalnya untuk mengulur waktu. Giliran ia sudah tak punya alasan lagi dan harus segera bekerja, ia bisa minta berhenti ketika baru menginjakkan sebelah kakinya di badan ini. ''Nih sudah!'' katanya sambil ngeloyor pergi. Maka menariknya kembali, menindihnya sampai ia meraung-raung dalam pengertian sebenarnya adalah kriminalitas yang menyegarkan.
Begitu juga dengan istri. Menikmati pijatan dan omelannya sambil terpejam sungguh menggembirakan hati. Omelan itu malah seperti hiburan saja. Oo, inilah wanita yang sudah lelah mengurus anak-anak itu, yang mengawasi setiap jengkal rumah, cucian, seterikaan, mengatur uang belanja, bayar listrik, telpon, mengangsur kredit, mengarsip dokumen keluarga, memasak... masih harus memijat suami pula.
Untuk mengucapkan rasa terimakasih secara terbuka, saya tak biasa. Untuk terharu secara terang-terangan gengsi saya tak mengizinkan. Untuk merayunya seperti adegan sinetron sebagai tanda cinta, saya sudah trauma. Karena pernah saya meniru adegan rayuan seperti di televesi itu, istri saya malah geli tanpa henti. Sudah tentu saya tersinggung. Sejak saat itu saya berjanji tidak akan merayunya lagi.
Sulit bagi saya untuk mengatakan cinta pada mereka secara terbuka. Jadi, jalan satu-satunya yang saya bisa ialah dengan cara memperalat mereka.
(PrieGS/) Check this out!
Labels:
Refleksi
Copyright 2009 Agus Ahmad Fadloli. Powered by
Blogger.
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Designed by grrliz
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Designed by grrliz














